Senin, 01 Juli 2013

Contoh PKM


0
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
STRATEGI KOMUNIKASI ULAMA DALAM MENCEGAH
BUDAYA MENGEMIS DIDESA PRAGAAN
DAYA SUMENEP MADURA
PKM-P
Diusulkan Oleh :
1. Mohammad Luthfi (09032030, 2009) Ketua Kelompok
2. Enjel Nursanik Widiyawati (09032010, 2009) Anggota Kelompok
3. Adi Taufiqurrohim (10032014, 2010) Anggota Kelompok
UNIVERSITAS BHAYANGKARA
SURABAYA
2012
1
2
A. JUDUL PENELITIAN : STRATEGI KOMUNIKASI ULAMADALAM
MENCEGAHBUDAYA MENGEMISDIDESA
PRAGAAN DAYASUMENEP MADURA
B. LATAR BELAKANG MASALAH
Masyarakat di Pulau MaduraJawa Timur dengan kekhasan budayanya
yang berbingkai nilai-nilai agama terkadang menampakkan kenyataan hidup yang
ironis.Kebiasaan mengemis bagi sebagian warga Desa Pragaan Daya Kecamatan
Pragaan Kabupaten Sumenep Madura telah mengesampingkan gambaran
masyarakat Madura sebagai pekerja keras. Sebuah Desa yang terletak 45 Km dari
kota Sumenep dengan populasi penduduk sekitar 3.500 kepala keluarga (KK)
atau 9.567 jiwa dimana sekitar 80% dari jumlah penduduk yang ada
masyarakatnya menjalani profesi sebagai pengemis.Profesi itu terlihat ironis
karena masyarakat Madura dikenal sebagai pekerja keras dan agamis dimana
dalam agama yang mereka anut (Islam) tidak membenarkan menempatkan tangan
di bawah.Kebiasaan mengemis sebagian warga Desa Pragaan Daya sudah
mentradisi turun temurun. Merekaberaksi di sejumlah pertokoan, tempat ziarah
serta keluar masuk perkantoran dan rumah-rumah warga dengan mengulurkan
tangan untuk meminta-minta dimana diantara mereka ada yang masih muda
tubuhnya segar bugar memaksa tiap orang memberi uang seikhlasnya.
(http://surabaya.detik.com).
Munculnya kebisaan mengemis warga Desa Pragaan Daya Sumenep
Madura di latar belakangi oleh berbagai faktor, mulaidari kondisi alam yang
gersang, lemahnyasektor ekonomi serta tingkat pendidikan masyarakatnya yang
masih rendah.Kondisi alam di desa ini termasuk daerah yang tandus dan tanah
berbatuan.Kalaupun ada yang menanam jagung dan kacang-kacangan hasilnyapun
kurang maksimal baik dari segi kualitas maupun kuantitas yang disebabkan
oleh faktor keringnya air yang hanya menunggu turunnya air hujan.Tingkat
pendidikan masyarakat Pragaan Daya juga sangat minim, merekayang lulus
pendidikan setingkat SMA dan S1 hanya sekitar 15% dari jumlah penduduk yang
ada,selebihnya tidak sekolah atau tidak tamat SD sehingga hal itu menjadi salah
3
satu faktor pemicu semakin meningkatnya budaya mengemis karena rendahnya
pendidikan dan pengetahuan mereka baik dari segi pendidikan agama maupun
pendidikan umum yang berdampak pada minimnya sumber daya manusia yang
dimiliki. (http://ern.pendis.kemenag.go.id.)
Peran ulama sebagai pemuka agama perlu dimaksimalkan dalam upaya
mencegah budaya mengemis di Desa Pragaan Daya Sumenep Madura. Sebagai
tokoh agama yang disegani oleh masyarakat karena kredibilitas dan
kompetensinya dalam bidang agama, ulama perlu memaksimalkan perannya
dalam memberikan pendidikan agama dengan mengkomunikasikan tentang ajaran
agama yang melarang mengemis. Ulama bukan hanya mengeluarkan fatwa haram
kepada pengemis yang justru hal itu hanya akan menyudutkan keberadaan
mereka, tetapi dengan menggunakan strategi komunikasi yang baik dan efektif
dengan perencanaan serta manajemen komunikasi yang tepat agar dapat
mempengaruhi sikap dan mengubah perilaku mereka. Sebab, persoalan pengemis
bukan hanya berpaku pada masalah halal/haram, karena larangan mengemis yang
dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sumenep dalam
bentuk fatwa tidak di indahkan oleh para pengemis, justrumereka semakin marak
beraksi di sejumlah tempat.
Ulama seyogyanya mampu memberikan pendidikan spritual kepada
mereka melalui strategi komunikasi yang efektif sehingga mampu merubah sikap
dan perilaku pengemis. Hal itu bisa dilakukan dengan cara melakukan pendekatan
spiritual kepada masyarakat sebagai langkah konkrit untuk mencegah kemiskinan
psikologis.Misalnya mengadakan pengajian rutin yang berkenaan dengan nilainilai
spiritual bahwa agama mengajarkan kita untuk giat bekerja dan melarang
meminta-minta yang merupakan suatu perilaku yang tak terpuji.
C. PERUMUSAN MASALAH.
1. Bagaimana strategi komunikasi ulama dalam mencegah budaya mengemis di
Desa Pragaan Daya Sumenep Madura?
4
2. Faktor-faktor apa yang menjadi penghambat dalam proses komunikasi yang
dilakukan ulama dalam upaya mencegah budaya mengemis di Desa Pragaan
Daya Sumenep Madura?
D. TUJUAN PROGRAM
1. Ingin mengetahui bagaimana strategi komunikasi ulama dalam mencegah
budaya mengemis di Desa Pragaan Daya Sumenep Madura
2. Ingin mencari solusi yang tepat dalam upaya mengurangi angka pengemis
khususnya di Desa Pragaan Daya Kecamatan Pragaan Kabupaten Sumenep
Madura.
E. LUARAN YANG DIHARAPKAN
1. Secara Teoritis
Untuk menyadarkan dan membuka mata kepada masyarakat khususnya warga
Desa Pragaan Daya bahwa mengemis merupakan suatu pekerjaan yang tidak
terpuji serta sangat dilarang dalam ajaran agama.
2. Secara Praktis
Sebagi masukan kepada ulama serta pihak-pihak terkait dalam upaya mencegah
budaya mengemis khususnya di Desa Pragaan Daya Sumenep Madura.
3. Secara Garis Besar
Bahwa fenomena pengemis bukanlah hal yang tabu, melainkan merupakan suatu
persoalan krusial dan perlu penanganan yang tepat terutama dari ulama selaku
tokoh agama yang memiliki kredibilitas dan peran dalam mengubah mental dan
moral pengemis.
4. Artikel Ilmiah
Penelitian ini bertujuan untuk diterbitkan sebagai jurnal ilmiah guna menambah
wawasan dan melatih mahasiswa dalam pembuatan karya ilmiah
F. KEGUNAAN PROGRAM
1. Menambah wawasan kita terutama yang berkaitan dengan masalah pencegahan
terhadap budaya mengemis
5
2. Memberikan informasi ilmiah mengenai strategi komunikasi ulama dalam
mencegah budaya mengemis
3. Hasil penelitian ini dapat dipakai oleh pihak terkait sebagai acuan dalam upaya
mengurangi pengemis.
G. KAJIAN PUSTAKA
g.1. Strategi Komunikasi
Komunikasi berasal dari bahasa Latin Communicatus yang berarti
“berbagi” atau “menjadi milik bersama”. Komunikasi menyarankan bahwa suatu
pikiran, suatu makna, atau suatu pesan dianut secara sama. Dengan demikian,
Komunikasi adalah suatu upaya yang dilakukan oleh individu-individu yang
bertujuan berbagi untuk mencapai kebersamaan. Komunikasi merupakan suatu
proses pertukaran informasi di antara individu dengan menggunakan lambanglambang,
tanda-tanda maupun tingkah laku. Pergaulan manusia merupakan suatu
bentuk peristiwa komunikasi dalam masyarakat.Hakekat dari pergaulan tersebut
ditunjukkan dengan derajat keintiman, mutu interaksi, jenis relasi, terutama faktor
sejauh mana keterlibatan dan saling mempengaruhi. (Rachajat Harun : 03).
Berbagai macam definisi komunikasi telah banyak di kemukakan oleh para
ahli yang di antaranya adalah:
Harold D. Laswswell mengatakan:
“komunikasi adalah menjawab pertanyaan “siapa yang menyampaikan
(komunikator), apa yang disampaikan (pesan), melalui saluran apa (media),
kepada siapa (komunikan) dan dengan pengaruh apa (efek)”.
Rogers dan D. Lawrence Kincaid (1981) mengatakan:
“komunikasi adalah suatu proses pertukaran informasi antara komunikator
dengan komunikan yang pada akhirnya akan terjadi saling pengertian yang
mendalam”
Shanon dan Weaver (1949) mengatakan:
“komunikasi adalah bentuk interaksi manusia yang saling mempengaruhi
satu sama lain baik sengaja mapun tidak dengan menggunakan bahasa verbal
maupun non verbal”.
6
Dari definisi-definisi di atas jelas bahwa komunikasi merupakan proses
pertukaran informasi antara komunikator dengan komunikan yang bertujuan
merubah sikap dan perilaku komunikan serta menjalin kebersamaan dalam
menciptakan saling pengertian dari orang-orang yang terlibat dalam komunikasi
tersebut. (Cangara, 2007 : 20-22).
Berhasil tidaknya suatu komunikasi dapat dilihat oleh sejauh mana strategi
komunikasi yang dilakukan. Sebab, pada hakekatnya strategi merupakan
perencanaan dan manajemen untuk mencapai tujuan. Dalam upaya mencapai
tujuan tersebut, strategi tidak hanya berfungsi sebagai peta jalan yang hanya
menunjukkan arah, melainkan juga harus menunjukkan bagaimana taktik
operasionalnya. Dengan demikian, strategi komunikasi merupakan paduan dari
perencanaan komunikasi dan manajemen komunikasi untuk mencapai tujuan
tersebut, sehingga komunikasi yang dilakukan dapat berjalan efektif.
Dalam strategi komunikasi, komunikator memiliki peran yang sangat
penting dimana seorang komunikatorakan sukses apabila ia memiliki kredibilitas
yang dapat dipercaya oleh komunikan. Kepercayaan komunikan kepada
komunikator ditentukan oleh keahlian komunikator dalam bidang tugas
pekerjaannya dan dapat tidaknya ia dipercaya. Kepercayaan kepada komunikator
mencerminkan bahwa pesan yang disampaikan kepada komunikan dapat dianggap
olehnya benar dan sesuai dengan kenyataan empiris. Seorang ulama akan
mendapatkan kepercayaan apabila ia berbicara mengenai masalah agama,
pendidikan moral maupu masalah sosial kemasyarakatan. Dengan demikian,
secara umum dapat diakui bahwa keahlian seorang komunikator baik keahlian
yang bersifat khas atau umum seperti yang timbul karena latar belakang
pendidikan yang lebih baik atau status sosial yang lebih tinggi akan membuat
pesan yang dikomunikasikan akan menimbulkan daya pengaruh yang kuat dan
besar. (Onong : 300-306)
g.2. Konsep Ulama
Ulamaadalah pemuka agama atau pemimpin agama yang bertugas untuk
mengayomi, membina dan membimbing umat Islam baik dalam masalah-masalah
7
agama maupun masalah sehari hari yang diperlukan baik dari sisi keagamaan
maupun sosial kemasyarakatan.Ulamaadalah seorang yang memahami konsep
agama secara menyeluruhdan mendalam serta mengaplikasikannya dalam bentuk
praktikal dan amalan hidup sehari-hari. Apabila ulama dikaitkan dengan Islam ia
berhubungan rapat dengan Allah.Ulamadikenali dengan ilmunya dan keteguhan
pendiriannya.Ulama dikenali dengan jihad, dakwah dan pengorbanan dari segi
waktu, harta benda, nyawa dan kesungguhan mereka di jalan Allah. Di antara
perkara yang menunjukkan kelebihan dari ulama adalah pengajian serta fatwanya.
Mereka juga mempunyai keperibadian yang mulia serta dispilin yang tinggi dalam
kehidupan.Dalam menggunakan ilmunya, merekatidak bersikap berat sebelah
berpihak pada suatu golongan tertentu untuk kepentingan tertentu.
(http://idrisahmad.wordpress.com)
Ulama dalam Ensiklodedi Indonesia yang dikutip oleh Dewan Rahardjo
memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1. Sebagai pengemban tradisi agama
2. Orang yang paham secara hukum Islam
3. Sebagai pelaksana hukum fiqih.
Dengan demikian melekatnya term keulamaan pada diri seseorang bukan
melalui suatu proses formal, tetapi melalui pengakuan setelah melalui proses
panjang dalam masyarakat itu sendiri dimana unsur-unsur keulamaan pada
seseorang berupa integritas, kualitas keilmuan dan kredibilitas kesalehan moral
dan tanggung jawab sosialnya dibuktikan. Keulamaan seseorang tidak akan
termanifestasi secara riil jika tidak dibarengi dengan penampakan sifat-sifat
pribadi yang pantas mereka miliki. (Dawam Rahardjo : 684)
Ulama sangat dihormati oleh umat Islam dimana pendapat-pendapat
mereka dianggap mengikat dalam berbagai masalah yang bukan hanya terbatas
pada masalah keagamaan saja melainkan juga dalam masalah lainnya.
Dikarenakan pengetahuan agama yang mendalam dan ketinggian akhlak, ulama
bergerak pada berbagai lapisan sosial. Mereka memiliki kekuatan dan pengaruh
yang besar dalam masyarakat. Oleh karena itu juga pengetahuan termasuk
pengetahuan agama yang dimiliki ulama adalah suatu kekuatan pencipta dan
8
pembentuk; pengetahuan (knowledge) dan kekuatan (power) berkaitan erat sekali,
dan konfigurasi keduanya merupakan kekuatan yang tangguh atas masyarakat.
Kompleksitas peran ulama dalam sektor-sektor penting masyarakat Islam
dibarengi oleh legitimasi dari dasar agama Islam, maka apresiasi masyarakat dan
arti pentingnya dalam masyarakat muslim menjadi sangat tinggi. Apalagi
melekatnya term keulamaan pada seseorang bukan melalui proses panjang dalam
masyarakat sendiri, dimana unsur-unsur keulamaan seseorang berupa integritas
kualitas keilmuan dan kredibilitas kesalihan moral dan tanggung-jawab sosialnya
dibuktikan.
Peranulama dalam bidang agama mapun sosial kemasyarakatan membuat
ulama memiliki tidak saja keabsahan teologis tetapi juga keabsahan sosial dan
keberadaannya yang sangat berakar di masyarakat yang kemudian dapat dipahami
bahwa ulama tidak sekedar diikuti pendapatnya dalam bidang keagamaan, tetapi
juga dalam bidang-bidang sosial kemasyarakatan lainnya. Sehingga tidak jarang
terjalin suatu pola hubungan antara ulama, dan masyarakat dimana ulama
berfungsi sebagai penggerak (inspirator, motivator, katalisator dan dinamisator)
gerakan-gerakan kemasyarakatan dan dengan demikian memiliki bargaining
position yang tinggi bila dihadapkan dengan kekuasaan.
g.3. Budaya Mengemis
Manusia selalu dihadapkan pada suatu persoalan yang meminta
pemecahan serta penyelesaian terutama yang berkaitan dengan usaha manusia
dalam mempertahankan hidup yang mengakibatkan terbentuknya kebudayaan
baru.Unsurutama dalam pembentukan kebudayaan baru adalah faktor kebutuhan
makan dan minum yang kemudian dipertahankan suatu kondisi yang di anggap
lebih baik dan menguntungkan dimana manusia membuat kondisi buatan dan
lebih lanjut.Disinilah kondisi buatan menjadi suatu kebudayaan dalam bentuk
sederhana serta esensi, karena kebudayaan berpangkal pada usaha manusia untuk
mempertahankan kondisi yang menguntungkan bagi dirinya.Hal ini terus
dilakukan dengan pengadaan kondisi buatan yang di usahakan kelanjutannya
dengan pemeliharaan serta pengelolaan sekaligus mengadakan standar kehidupan
9
kebudayaan kelompok atau masyarakat.Untuk mempertahankan eksistensi
kelompok dalam lingkungan alamiah, biologik dan fisik, manusia meneruskan
pemikiran serta pengalamannya kepada generasi berikut sehingga terbentuklah
suatu tradisi/budaya. (Phil. Astrid S. Susanto :122).
Menurut Peter Berger dan Thomas Luckmann, perilaku mengemis bagi
para pengemis merupakan suatu kebiasaan dimana dengan kebiasaan ini para
pengemis belajar mengenali satu sama lain kekhasan mereka dengan berinteraksi
melalui komunikasi verbal maupun non verbal. Para aktor ini dapat
mengembangkan suatu ikatan secara psikologis dan sosial dalam suatu kelompok.
Melalui kelompok ini para pengemis berperilaku sesuai dengan peran yang
dimainkan sehingga mereka dapat mengembangkan melalui aturan yang terbentuk
dari perilaku yang terbiasa dan harapan-harapannya, bahkan mereka dapat
membentuk suatu ikatan profesi. Dalam mempertahan eksistensi mereka,
keterikatan para pengemis didalam kelompoknya akan diwariskan kepada
generasi berikutnya melalui tradisi atau pembelajaran. (Engkus : 112)
Profesi mengemis warga Desa Pragaan Daya merupakan budaya turun
temurun. Bagi mereka mengemis adalah suatu keharusan untukdijalankan. Banyak
alasan yang dilontarkan untuk membenarkan pekerjaan mereka itu, antara lain
karena tidak memiliki usaha lain yang menurut mereka uang hasil meminta-minta
itu adalah rezeki halal karena uang itu diberikan oleh yang punya secara ikhlas.
Budaya mengemis didasari oleh ketidak-mampuan individu dalam
menemukan makna hidup yang menyebabkan ia mengalami keputus-asaan,
kehilangan kepercayaan diri dan kehilangan kebebasan untuk berkarya. Karena
pada dasarnya manusia bertujuan untuk menemukan makna hidup yang berupa
nilai-nilai yang berharga dan dihayati yang membuat seseorang merasa berharga
dan mempunyai alasan untuk hidup dan menegakkan dirinya.Apabila manusia
gagal untuk menemukan makna hidupnya, maka hidupnya terasa hampa, tidak
bermakna, tanpa tujuan, tanpa arah dan seterusnya. Ini yang bisa menjelaskan
mengapa seseorang yang sehat, segar dan bugar memilih menjadi pengemis.
Sedangkan mereka yang berhasil menemukan makna hidupnya, maka ia akan
10
memiliki kesempatan yang lebih banyak untuk bertahan menegakkan dirinya.
(http://wartawarga.gunadarma.ac.id).
H. METODE PENELITIAN
1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Desa Pragaan Daya Sumenep Madura, mengingat
desa ini di juluki sebagai desa pengemis.
2. Focus Penelitian
Yang menjadi focus penelitian ini adalah warga Pragaan Daya Sumenepdan
Ulama selaku pemuka agama
3. Sumber Informasi
Yang menjadi sumber informasi dari penelitian ini adalah warga Desa Pragaan
Daya Sumenep dan Ulama
4. Wawancara Mendalam
Metode ini dilakukan dengan cara observasi terlibat untuk mendapatkan
informasi yang akurat dari sumber informasi.
5. Analisis Data
Metode ini dilakukan untuk menverifikasi data-data yang di peroleh baik dari
sumber informasi maupun hasil wawancara mendalam guna mendapatkan suatu
kesimpulan.
6. Langkah-Langkah Penelitian
a. Persiapan Diskusi :
1. Perijinan
2. Pemantapan Tim
b. Pengumpulan data :
1. Persiapan Lapangan
2. Observasi
3. Wawancara
c. Pengolahan Data :
1. Editing
2. Cross Check Data
11
3. Entry Data
4. Mengalisis Data
5. Diskusi
d. Menyusun Laporan :
1. Menyusun Draf Laporan
2. Diskusi
3. Laporan Akhir
4. Publikasi
7. Desain Penelitian
 belum
LATAR BELAKANG
Belum adanya suatu solusi yang tepat dari ulama dalam upaya mencegah
budaya mengemis di Desa Pragaan Daya Sumenep
PERMASALAHAN
Diperlukan adanya suatu solusi tepat dari ulama dalam upaya mencegah
budaya mengemis di Desa Pragaan Daya Sumenep Madura
TARGET
Menemukan suatu solusi yang tepat dari ulama dalam upaya mencegah
budaya mengemis di Desa Pragaan Daya Sumenep Madura
KONDISI AKHIR
Adanya suatu solusi tepat dari ulama tentang pemberdayaan pengemis
dalam upaya mengurangi angka pengemis di Desa Pragaan Daya Sumenep
Madura
12
I. JADWAL KEGIATAN
AKTIVITAS
Bulan ke
1 2 3 4 5
Persiapan dan Diskusi Tim
- Perijinan
- Pemantapan Tim Penelitian
xx
xx
Pengumpulan Data
- Persiapan Lapangan
- Observasi
- Wawancara
xx
xx
xx
xx
Pengolahan Data
- Editing
- Cross Check Data
- Entry Data
- Menganalisa Data
- Diskusi
xx
xx
xx
xx
xx
Laporan dan Publikasi
- Menyusun Draf Laporan
xx
INDIKATOR KEBERHASILAN
- Berkurangnya angka pengemis di Desa Pragaan Daya Sumenep
- Meningkatnya kesejahteraan hidup warga Desa Pragaan Daya
Sumenep
LUARAN
- Model
- Jurnal Ilmiah
13
- Diskusi Tim
- Menyusun laporan Akhir
- Publikasi Ilmiah
xx
xx
xx
J. RANCANGAN BIAYA
Uraian Bahan
dan Peralatan
Volume
Penelitian
Harga
Satuan
Biaya Jumlah
Kertas 2 rim 40.000 80.000 80.000
Tinta Printer 2 buah 100.000 200.000 200.000
CD RW 10 keping 5000 50.000 50.000
Copy Berkas 150.000 150.000
Perjalanan
Transport +
Makan
5 bulan x 3
orang
40.000 x 10
kali
perjalanan/bln
6.000.000
6.000.000
Biaya lain-lain
Laporan /
Publikasi
5 Exp
30.000
150.000
150.000
Perijinan 1 kota 300.000 300.000 300.000
Komunikasi 5 bulan 100.000 500.000 500.000
Kamera 5 bulan = 10
x sewa
25.000/sewa
250.000
250.000
7.680.000
14
K. DAFTAR PUSTAKA
Cangara, Hafied H, 2007. Pengantar Ilmu Komunikasi, PT. Raja Grafindo
Persada Jakarta.
Dawam Rahardjo,M. 1996. Ensiklopedi Al-Qur'an. Paramadina, Jakarta
Effendy, Onong Uchjana : 2003, Ilmu, Teori Dan Filsafat Komunikasi, PT. Citra
Aditya Bakti, Bandung
Harun, Rochajat. 2008, Komunikasi Organisasi, Mandar Maju, Bandung
Kuswarno, Engkus. 2009, Fenomenologi, Widya Padjajaran, Bandung.
Mulyana, Dedy. 2007, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, PT. Remaja
Rosdakarya, Bandung
S. Susanto, Phil. Astrid, 1985, Pengantar Sosiologi dan Perubahan Sosial,
Binacipta, Bandung
Soetomo, 1995, Masalah Sosial dan Pembangunan, PT Dunia Pustaka Jaya,
Jakarta
Sztompka, Piotr, 2004, Sosiologi Perubahan sosial, Prenada, Jakarta
http://surabaya.detik.com
http://berita.kapanlagi.com
http://ern.pendis.kemenag.go.id
http://wartawarga.gunadarma.ac.id
http://mahmudibnumasud.blogspot.com
http://idrisahmad.wordpress.com
15
L. LAMPIRAN
PERSONALIA KEGIATAN
1. Ketua penelitian
a. Nama Lengkap
b. NIM
c. Jabatan Fungsional
d. Fakultas
e. Perguruan Tinggi
f. Waktu Untuk Meneliti
: Mohammad Luthfi
: 09032030
: Mahasiswa
: FISIP
: UBHARA Surabaya
: 5 Bulan
2. Anggota Penelitian
a. Nama Lengkap
b. NIM
c. Jabatan Fungsional
d. Fakultas
e. Perguruan Tinggi
f. Waktu Untuk Meneliti
: Enjel Nursanik Widiyawati
: 09032010
: Mahasiswa
: FISIP
: UBHARA Surabaya
: 5 Bulan
3. Anggota Penelitian
a. Nama Lengkap
b. NIM
c. Jabatan Fungsional
d. Fakultas
e. Perguruan Tinggi
f. Waktu Untuk Meneliti
: Adi Taufiqurrohim
: 10032014
: Mahasiswa
: FISIP
: UBHARA Surabaya
: 5 Bulan
16
17
18
19
CURICULUM VITAE
DOSEN PENDAMPING
1. Identitas Diri
1. Nama Dra. Rini Ganefwati, M.Si
2. NIP 9100031
3. Tempat & Tgl Lahir Surabaya, 11 Nopember 1963
4. Program Studi Sosial
Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik
Perguruan Tinggi Unversitas Bhayangkara Surabaya
5. Alamat Kantor JL. A. Yani 114 Surabaya
Alamat Rumah Sepande RT. 10 RW. 03 Candi Sidoarjo
2. Pendidikan
No Nama Perguruan Tinggi Gelar Tahun Lulus Bidang Studi
1. UNAIR Dra. 1989 Sosiologi
2. UNITOMO M.Si 2006 Ilmu Komunikasi
3. Pengalaman Riset
No Judul Riset Tahun
1. Efektivitas Bappeda Dalam Koordinasi Pembangunan Sektoral di
Daerah (Suatu Studi Tentang Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Efektivitas Bappeda Dalam Koordinasi Pembangunan Sektoral di
Kabupaten Daerah Tingkat II Sidoarjo
1997
2. Faktor Dominan Orientasi Calon Mahasiswa Dalam Memilih
Perguruan Tinggi
1999
3. Kekerasan Massa Terhadap Tindak Pidana Masyarakat 2000
4. Pola Pendampingan Orang Tua Terhadap Anak Dalam Menonton
Acara Televisi
2003
5. Hubungan Strategi BEC (Basic English Course) Pare Kediri
Dengan Motivasi Siswa Memilih Sebagai Tempat Kursus
2004
6. Hubungan Tayangan Iklan Televisi Mie Sedaap dengan Sikap
Pemirsa pada Produk yang di Tawarkan di Surabaya
2005
7. Model Strategi Pembinaan Calo Transportasi Darat, Laut dan
Udara di Jawa Timur
2006
8. Strategi Komunikasi Penertiban Bangunan Liar di Stren Kali
dalam Menciptakan Lingkungan Kota Surabaya yang Bersih dan
Nyaman
2007
20

Tidak ada komentar:

Posting Komentar